Ka'bah
Pendataran
Peluang Usaha Tambahan
Menawarkan kerjasama kepada anda yang sudah mempunyai toko, untuk menjadi agen pendaftaran Umroh dan Haji Plus. Komisi sangat menarik.
Tugas anda hanya menerima pendaftaran, untuk administrasi dan pendaftaran kami yang akan mengurusnya.
GRATIS....
Jika berminat silahkan hubungi :
081383960412
sukarnofaza@gmail.com
Perhatian
DP 2.8juta dan Booking Seat USD500.Jadwal Keberangkatan :
Rabu, 30 November 2011
Haji Mabrur dan Indikatornya
1. Motivasi atau niat Ibadah Haji, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
2. Proses pelaksanaan sesuai dengan contoh ibadah Rasulullah saw. dimana syarat, rukun wajib (bahkan sunat) ibadah tersebut terpenuhi.
3. Biaya untuk ibadah tersebut diperoleh dengan cara yang halal.
4. Dampak dari ibadah haji positif bagi pelakunya, yaitu adanya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji.
B. Indikator Setelah Ibadah Haji
1. Patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, patuh melaksanakan sholat, konsekuen membayar zakat, sungguh-sungguh membangun keluarga sakinah mawaddah dan wa rahmah, selalu rukun dengan sesama umat manusia, sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.
2. Konsekuen meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, bid’ah dsb.
3. Gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat.
4. Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, menda’wahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar ma’ruf dengan cara yang ma’ruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.
5. Memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, tasamuh, pemaaf, tawadlu dsb.
6. Malu kepada Allah SWT utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya.
7. Semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam.
8. Bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.
9. Cepat melakukan taubat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa.
10. Sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan “Izzul Islam wal Muslimin”.
Sumber: www.hajiumroh.com Selengkapnya...
Selasa, 29 November 2011
Hingga 2016 Daftar Tunggu Haji di Banten Sudah Full
Hingga 2016 Daftar Tunggu Haji di Banten Sudah Full
UmmatOnline.Net – Masyarakat Provinsi Banten yang hendak menunaikan haji, nampaknya harus lebih bersabar. Pasalnya, kuota haji untuk provinsi ke-30 ini sudah penuh hingga beberapa tahun mendatang. Bahkan antrean calon jemaah haji (Calhaj) untuk wilayah itu sudah penuh hingga 2016.
”Jadi untuk pendaftar baru yang saat ini masuk akan ditempatkan pada kuota haji 2017. Sedangkan kuota 2012 hingga 2016 sudah penuh,” ujar Kabid Penyelenggaraan Haji, Zakat dan Wakaf, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banten, Rasna Dahlan.
Rasna menyebutkan, antrean calon jemaah haji Banten hingga 2 016 mencapai 39.000 orang. Ia juga menuturkan, Provinsi Banten menduduki peringkat tertinggi jumlah antrean Calhaj se-Indonesia setelah Jawa Timur dan Jawa Barat. ”Akibat daftar tunggu, Calhaj terus bertambah setiap tahunnya,” cetusnya juga.
Sementara kuota haji untuk Provinsi Banten cenderung tidak ada penambahan hanya untuk 8.541 orang. Lebih jauh Rasna mengatakan, pembuatan paspor untuk jemaah haji pada 2011 akan digelar mulai 1 Juni di kantor imigrasi di Kabupaten Serang, Cilegon dan Kota Tangerang. (jpnn)
http://www.ummatonline.net/hingga-2016-daftar-tunggu-haji-di-banten-sudah-full#bookmarks
Selengkapnya...
Senin, 28 November 2011
Jumlah Jamaah Haji Wafat Dekati Tahun Lalu
REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Meski keberadaan jamaah haji Indonesia di Arab Saudi baru berakhir pada 10 Desember, atau 15 hari ke depan, namun jumlah jamaah haji yang wafat saat ini sudah mendekati jumlah jamaah haji yang wafat pada musim haji 2010.
Jumlah jamaah haji yang wafat saat ini mencapai 425 orang. Sedangkan, total angka wafat tahun lalu sebanyak 451 orang. “Ya, memang yang wafat masih cukup banyak, padahal waktu yang tersisa masih sekitar setengah bulan. Potensi bertambahnya jamaah wafat masih cukup besar dengan melihat jumlah jamaah yang dirawat yang kini masih ratusan orang. Tapi kami berharap semuanya akan bisa sehat, dan angka jamaah wafat tak lagi bertambah,” kata petugas penghubung kesehatan Dakker Makkah, Abdul Hafidz, Jumat (25/11), kepada wartawan Republika, Muhammad Subarkah.
Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Jumat (25/11) pukul 10.13 Waktu Arab Saudi (WAS) menunjukkan, jamaah haji wafat terbanyak masih dari Surabaya (SUB) sebanyak 79 orang dan Surakarta (SOC) sebanyak 75 orang. Setelah itu, Jawa Barat (JKS) dan Jakarta (JKG), sebanyak 49 dan 46 jamaah.
BPIH khusus dan Ujung Pandang (UPG) masing-masing 27 orang, Batam (BTH) 26 orang, Palembang (PLG) 21 orang, Medan (MES) 18 orang, Padang 17 orang, Aceh (BTJ) 14 orang, Banjarmasin 13 orang, Balikpapan 12 orang, dan non kloter 1 orang.
Ditegaskan Hafidz, banyaknya jamaah yang masih sakit serius bisa dilihat dari data jamaah yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) ada 57 orang, yakni di RSAS Jeddah 5 orang, RSAS Madinah 17 orang, dan RSAS Makkah 35 orang.
“Sedangkan jumlah jamaah yang masih dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Makkah malah masih ratusan, yakni 241 orang. BPHI Madinah 20 orang. BPHI Jeddah 17 orang,” kata Hafidz.
Penyakit yang mendominasi jamaah wafat adalah penyakit sistem sirkulasi sebanyak 227 jamaah haji dan masalah sistem pernapasan 106 orang. Sedangkan berdasarkan usia, jamaah berusia di atas 60 tahun paling banyak 313 orang dan jamaah di atas 50 tahun sebanyak 91 orang.
Sedangkan total jamaah haji wafat tahun lalu yaitu 451 orang juga didominasi jamaah haji asal Surabaya, yaitu sebanyak 90 orang. Penyakit yang mendominasi adalah cardiac arrest (serangan jantung) sebanyak 228, jamaah berusia di atas 60 tahun mendominasi sebanyak 290 jamaah.
Redaktur: Chairul Akhmad
Selengkapnya...
Tata Cara Haji: Hari Tarwiyah
Oleh: Yusuf bin Abdullah bin Ahmad Al-Ahmad
Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan dari bulan Dzulhijjah. Disebut demikian karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air untuk (persiapan ibadah) selanjutnya.
Yang Dikerjakan pada Hari Tarwiyah
1. Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu’ untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat di mana ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal.
Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaos tangan.
2. Selanjutnya Anda mengucapkan: لَبَّيك حجًًّا (Aku penuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah haji). Jika ditakutkan ada halangan maka disunnahkan memberi syarat dengan mengucapkan: فإِ نْ حَبَسَنِِي حَا بِسٌ فَمَحَلّي حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ
“Jika aku terhalang oleh suatu halangan maka tempat (tahallul)ku adalah di mana Engkau menahanku.”
Selanjutnya mengucapkanlah talbiyah: لَبََّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ،لَبَّيْكَ لاَ شَريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ والْمُلكَ، لاَشَرِيْكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Demikianlah, terus mengumandangkan talbiyah dengan mengeraskan suara, sampai melempar jumrah aqabah pada hari Nahar (kurban).
3. Pada malam ini disunnahkan bermalam di Mina.
4. Dan di Mina, disunnahkan menunaikan shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh pada hari Arafah, semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama’.
Setiap haji hendaknya memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti mendengarkan ceramah agama, membaca Al-Qur’an, membaca buku tentang manasik haji dan lain-lain.
Hari Arafah
1. Jika matahari terbit pada hari Arafah (hari kesembilan dari bulan Dzulhijjah), maka setiap jamaah haji berangkat dari Mina ke Arafah, seraya mengumandangkan talbiyah atau takbir. Hal itu sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat, sedang mereka bersama Nabi SAW. Ada yang mengumandangkan talbiyah dan Nabi tidak mengingkarinya, ada yang bertakbir dan Nabi juga tidak mengingkarinya.
Jika matahari telah tergelincir, maka jamaah shalat Dzuhur dan Ashar secara jama’ qashar dengan satu adzan dan dua iqamat. Sebelum shalat, imam menyampaikan khutbah yang materinya sesuai dengan keadaan (ibadah haji).
2. Setelah shalat, setiap jamaah menyibukkan diri dengan dzikir, doa dan merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sebaiknya berdoa dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat hingga terbenamnya matahari. Demikian seperti yang dilakukan Nabi SAW.
Karena itu, setiap jamaah haji hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang agung ini. Hendaknya ia mengulang-ulang serta memperbanyak doa, juga hendaknya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sejujur-jujurnya.
Keutamaan Hari Arafah
Nabi SAW bersabda, “Haji adalah Arafah.” (HR Ahmad dan para penulis kitab Sunan).
Nabi SAW bersabda, “Tidak ada hari yang ketika itu Allah lebih banyak membebaskan hamba dari (siksa) Neraka selain hari Arafah. Dan sungguh ia telah dekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berfirman, ‘Apa yang mereka kehendaki?” (HR. Muslim).
Rasulullah bersabda, “Yang paling utama aku ucapkan, juga yang diucapkan oleh para nabi pada sore hari Arafah adalah, ‘Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Malik dan lainnya).
Bermalam di Muzdalifah
Jika matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para jamaah haji berduyun-duyun (meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang, diam dan tidak berdesak-desakan. Jika telah sampai Muzdalifah merkea shalat Maghrib dan Isya secara jama’ qashar dengan satu adzan dan dua iqamat.
Jika takut akan lewatnya waktu, hendaknya jamaah shalat Maghrib dan Isya di tempat mana saja, meskipun di Arafah. Lalu bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian shalat Subuh di awal waktunya, lalu menuju Masy’aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya.
Jika tidak, maka seluruh Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyariatkan). Di sana hendaknya jamaah menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, mengesakan dan berdoa kepada-Nya. Jika pagi telah tampak sangat menguning, sebelum terbit matahari, para jamaah berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan talbiyah hingga sampai melempar jumrah aqabah.
Hari Raya Kurban
Beberapa amalan pada hari Raya Kurban adalah:
1. Melempar jumrah aqabah.
2. Menyembelih hadyu (bagi orang yang melakukan haji tamattu’ dan qiran).
3. Mencukur (gundul) rambut kepala atau memendekkannya, tetapi mencukur (gundul) adalah lebih utama.
4. Thawaf ifadhah dan sa’i untuk haji.
Hari-Hari Tasyriq
1. Wajib bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyriq, yakni malam ke-11 dan ke-12 (bagi yang terburu-buru) serta malam ke-13 (bagi yang mengakhirkan/tetap tinggal).
2. Wajib melempar jumrah pada hari-hari tasyriq, caranya adalah sebagai berikut: Setiap jamaah haji melempar ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah) pada setiap hari dari hari-hari tasyriq setelah tergelincirnya matahari. Yakni dengan tujuh batu kerikil secara berurutan untuk masing-masing jumrah, dan hendaknya ia bertakbir setiap kali melempar. Dengan demikian jumlah batu kerikil yang wajib ia lemparkan setiap harinya adalah 21 batu kerikil.
Jama’ah haji memulai dengan melempar jumrah ula, yakni jumrah yang letaknya dekat Masjid Al-Khaif, kemudian hendaknya ia maju ke sebelah kanan seraya berdiri dengan menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdoa dengan mengangkat tangan. Lalu ia melempar jumrah wustha, kemudian mencari posisi di sebelah kiri dan berdiri menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdoa seraya mengangkat tangan. Selanjutnya ia melempar jumrah aqabah dengan menghadap kepadanya serta menjadikan kota Makkah berada di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya. Di sana ia tidak berhenti (untuk berdoa). Demikianlah, hal yang sama hendaknya ia lakukan pada tanggal 12 dan 13 Dzulhijjah.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Disarikan dari kitab Shifatul Hajji wal Umrati wa Ahkamish Shalati fi Masjidin Nabawi, edisi Indonesia Tata Cara Haji, Umrah dan Hukum Shalat di Masjid Nabawi. Penulis Yusuf bin Abdullah bin Ahmad Al-Ahmad, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc, Penerbit Darul Haq.
Selengkapnya...
Keistimewaan Kabah
Pertama, Ka’bah merupakan titik sentral bumi berdasarkan beberapa alasan. Berikut ini beberapa alasan yang paling populer:
1. Berdasarkan pengamatan DR Husein Kamaluddin, Kota Makkah Al-Mukarramah berada di puncak jantung dunia yang melintasi semua tepian benua. Hasil ini diperoleh ketika dia mempersiapkan penelitian penetapan arah-arah yang akurat ke kiblat dari beberapa kota utama di seluruh dunia dengan menggunakan komputer. Berikut sejumlah temuannya:
Wilayah di sekitar Makkah Al-Mukarramah dibagi secara rapi dan teratur. Kota yang disucikan ini dianggap sebagai pusat bumi. Inilah salah satu sebab pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Makkah Al-Mukarramah.
Kota Makkah terletak di pusat bumi. Allah SWT berfirman, “Demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) ‘umat pertengahan’, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kalian (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang.” (QS Al-Baqarah: 143).
Garis bujur yang melintasi Kota Makkah seharusnya menjadi garis dasar penetapan waktu. Arnold Keysrling, seorang ilmuwan Barat, mengatakan garis bujur kota Makkah seharusnya menjadi garis penentuan waktu internasional sebagai ganti Greenwich.
2. Matahari berada tepat secara vertikal di atas Ka’bah sebanyak dua kali dalam setahun. Pada waktu itu, bayangan segala sesuatu mengarah ke arah kiblat.
Kedua, keajaiban posisi Ka’bah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97).
Apabila Maqam Ibrahim termasuk tanda-tanda yang nyata di Masjidil Haram, maka tanda nyata terpenting di Masjidil Haram adalah Ka’bah sebagai kiblat bagi seluruh kaum Muslimin di belahan timur dan barat bumi. Oleh karena itu, betapa pentingnya umat Muslim berkiblat pada sudut-sudut Ka’bah.
Setelah mengukur sudut-sudut kemiringan Ka’bah pada 1410 H, seorang insinyur Arab Saudi, Muhammad Al-Mu’tazz, menyimpulkan bahwa poros bangunan Ka’bah yang menyambungkan antara Rukun Iraqi dengan Rukun Yamani menunjuk ke arah utara magnet disertai sedikit kemiringan pada arah timur yang diperkirakan sekitar 3,5◦.
Rukun Iraqi lebih condong ke arah utara, tepat ke arah Madinah Al-Munawwarah. Keberadaan Ka’bah yang terletak di tengah-tengah bumi menjadikannya sebagai kompas yang menuntun seluruh alam dalam derajat keimanan sekaligus materi. Rukun Iraqi yang menunjuk ke arah utara merupakan pembenaran terhadap firman Allah SWT pada ayat terdahulu.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/26/keistimewaan-kabah/
Selengkapnya...
Kamis, 24 November 2011
Manasik Haji Rasulullah SAW
Oleh: Syekh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi
Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, sesungguhnya Rasulullah SAW tinggal (di Madinah), tidak pergi haji selama sembilan tahun. Kemudian pada tahun kesepuluh diumumkan kepada halayak bahwa Rasulullah SAW akan berangkat melaksanakan haji. Datanglah ke Madinah manusia yang banyak, semuanya hendak mengikuti Nabi SAW dan mengerjakan seperti apa yang beliau kerjakannya.
Ketika Rasulullah dan rombongan tiba di Dzul Hulaifah, Asma binti Umaisy melahirkan Muhammad bin Abi Bakar, kemudian Asma bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang harus aku lakukan?”
Beliau menjawab, “Mandilah dan bercawatlah dengan kain (sebagai pembalut), kemudian berihramlah!”
Setelah itu beliau shalat di masjid dan menunggang Qashwa (unta beliau) hingga apabila unta itu telah sampai di Baida’. Turunlah firman Allah SWT. Beliau kemudian dikerumuni para sahabat dan rombongan haji. Kemudian beliau memulai haji dengan talbiyah, “Labbaika Allahumma labbaika, la syarika laka labbaika, innalhamda wanni’mata laka la syarika laka (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Manusia pun ikut bertalbiyah dengan talbiyah ini, yang mereka pakai bertalbiyah. Rasulullah tidak pernah menambah sedikit pun talbiyah ini, beliau terus mengulanginya.
Jabir RA berkata, “Kami tidak meniatkan kecuali haji, kami tidak mengenal umrah hingga kami sampai di Ka’bah bersama beliau mengusap Hajar Aswad, beliau (thawaf sambil) berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan pada empat putaran berikutnya, kemudian pergi ke Maqam Ibrahim dan membaca, “Wattakhizu min maqami Ibrahima musholla, “… Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat…” (QS. Al-Baqarah: 125).
Beliau menjadikan Maqam Ibrahim berada antara beliau dan Ka’bah. Kemudian beliau kembali mengusap Hajar Aswad. Setelah itu beliau menuju Shafa, ketika dekat dengan Shafa beliau membaca, “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah…” (QS Al-Baqarah: 158).
Lalu berkata, “Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”
Beliau pun memulai dari bukit Shafa, menanjakinya sampai beliau melihat Ka’bah dan menghadap Kiblat, kemudian beliau mengucapkan kalimat tauhid kepada Allah serta bertakbir, beliau berkata,”
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكَ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata. Yang melaksanakan janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.”
Di sela-sela itu itu beliau berdoa dan mengulangi bacaan ini tiga kali, kemudian beliau turun menuju Marwa hingga ketika kedua telapak kaki beliau menginjak perut lembah beliau berlari-lari kecil. Ketika beliau mulai naik menuju bukit Marwa beliau berjalan hingga sampai ke Marwa.
Di Marwa beliau mengerjakan seperti apa yang telah dikerjakan di Shafa, hingga sa’i beliau berakhir di Marwa, beliau bersabda, “Seandainya aku mengetahui apa yang aku ketahui sekarang, niscaya aku tidak akan membawa hewan sembelihan dan akan aku jadikan hajiku sebagai umrah. Barangsiapa di antara kalian yang tidak memiliki hewan kurban, hendaknya ia bertahallul dan menjadikan hajinya sebagai umrah.”
Suraqah bin Malik bin Ju’syum berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?”
Kemudian beliau menjalin jari-jeraminya satu dengan yang lain dan bersabda, “Telah masuk umrah dalam haji.’ (Beliau mengulangnya dua kali) bahkan untuk selama-lamanya.”
Kemudian Ali datang dari Yaman membawa unta-unta Rasulullah SAW dan menjumpai Fathimah termasuk orang-orang yang bertahallul, memakai pakaian yang dicelup dan bercelak. “Ali pun mengingkari hal ini, Fathimah berkata, “Sesungguhnya ayahku memerintahkanku untuk melakukan hal ini.”
Ketika di Irak, Ali berkata, “Kemudian aku pergi mengadukan apa yang diperbuat oleh Fathimah kepada Rasulullah SAW, ia bertanya kepada beliau akan apa yang diceritakan Fathimah tentang beliau. Aku juga menceritakan bahwa aku telah mengingkari apa yang dikerjakan Fathimah ini.”
Beliau bersabda, “Ia benar, ia benar. Apa yang engkau katakan ketika engkau mengerjakan haji?”
Ali menjawab, “Ya Rabb-ku, aku berihram dengan apa yang diihramkan oleh Rasul-Mu.”
Rasulullah bersabda, “Aku membawa hewan kurban, maka engkau jangan bertahallul.”
Hewan kurban yang terkumpul baik yang dibawa oleh Ali RA maupun yang dibawa oleh Nabi SAW, sebanyak seratus ekor. Kemudian semua jamaah haji bertahallul dan memendekkan (mencukur) rambut mereka kecuali Nabi SAW dan orang-orang yang membawa hewan kurban.
Ketika tiba hari Tarwiyah, mereka semua berangkat menuju Mina, mereka memulai manasik haji. Rasulullah SAW menaiki tunggangannya, kemudian (setelah tiba beliau) mengimami mereka shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh.
Setelah shalat Subuh beliau menunggu sebentar sampai terbit matahari, beliau meminta didirikan kemah untuk beliau di Namirah. Rasulullah kemudian mulai bertolak, orang-orang Quraisy tidak meragukan kecuali beliau berhenti di Masy’aril Haram seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy pada zaman jahiliyah, beliau telah melewati Mina dan menuju Arafah hingga ketika sampai di (dekat) Arafah beliau mendapatkan kemahnya telah di pasang di Namirah. Beliau pun singgah di tempat tersebut.
Ketika matahari telah tergelincir beliau memerintahkan agar untanya, al-Qashwa, disiapkan. Beliau pergi ke tengah-tengah lembah dan berkhutbah di tengah-tengah manusia. Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas kalian seperti keharaman hari ini, bulan ini dan negeri kalian ini. Ketahuilah sesungguhnya segala macam perbuatan jahiliyah (yang telah lalu pada masa jahiliyah) di bawah kedua telapak kakiku telah dilupakan (tidak dihukum). Darah (pembunuhan) jahiliyah (yang telah lalu pada masa jahiliyah) telah dilupakan (tidak dihukum). Darah (pembunuhan) pertama yang dilupakan (tidak dihukum) dari darah-darah kita adalah darah Ibnu Rabi’ah bin Al-Harits. Dia mencari perempuan yang menyusuinya dari Bani Laits, tetapi perempuan itu dibunuh oleh Hudzail.
Riba jahiliyah (yang telah lalu pada masa jahiliyyah) telah dilarang. Riba pertama yang dihapuskan adalah riba Abbas bin Abdil Muththalib. Bertakwalah kepada Allah mengenai (hak-hak) wanita. Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kehormatan mereka menjadi halal bagimu dengan kalimat Allah.
Hakmu atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci menginjakkan kaki di rumah kalian, apabila mereka mengerjakan hal ini pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Hak mereka yang menjadi kewajibanmu adalah memberi mereka nafkah dan pakaian yang pantas.
Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang apabila kalian ber-pegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dan kalian akan ditanya tentang aku, apakah yang akan kalian katakan?”
Para sahabat menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah Rabb-mu), engkau telah menunaikan (amanah) dan telah menasehati (umat).”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda sambil mengacungkan telunjuk ke langit kemudian mengarahkannya ke khalayak, “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!”
Setelah adzan dan iqamat beliau shalat Dzuhur, kemudian iqamat dan shalat Ashar (qashar dengan jamak taqdim). Beliau tidak melakukan shalat apa pun lagi di antara keduanya. Lalu beliau menaiki kendaraan menuju ke tempat wukuf. Beliau merapatkan perut untanya (Al-Qashwa) ke batu-batu besar. Beliau berhenti di jalan besar dan menghadap kiblat.
Beliau terus wukuf hingga matahari terbenam, rona kuning sedikit demi sedikit mulai menghilang dan matahari benar-benar tenggelam. Beliau membonceng Usamah di belakang, kemudian mulai bertolak. Beliau mengencangkan kendali untanya sampai-sampai kepala unta itu menyentuh tempat duduk kendaraan. Beliau memberi isyarat dengan tangan kanannya sambil bersabda, “Wahai sekalian manusia, tetaplah tenang, tetaplah tenang.”
Beliau mengendorkan tali kekang untanya sedikit demi sedikit hingga unta itu dapat berjalan mendaki. Setibanya di Muzdalifah beliau shalat Maghrib dan Isya dengan satu kali adzan dan dua kali iqamat (qashar dengan jamak ta’hir), beliau tidak membaca tasbih apa pun di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga fajar terbit. Beliau shalat Subuh ketika waktu Shubuh sudah tampak jelas dengan sekali adzan dan iqamat.
Setelah itu beliau berangkat dengan untanya, hingga ketika sampai di Masy’aril Haram beliau menghadap Kiblat, lalu membaca doa, takbir dan tahlil kepada Allah. Beliau tetap berada di situ hingga terang benderang, lalu beliau bertolak sebelum matahari tebit. Beliau membonceng Fadhl bin Abbas.
Setibanya di Jumrah dekat pohon, beliau melempar tujuh kali dengan batu-batu kecil, di setiap lemparan beliau bertakbir, setiap biji batu ukurannya sebesar kelingking. Beliau melempar dari tengah-tengah lembah itu. Kemudian beliau menuju tempat penyembelihan. Rasulullah menyembelih 63 hewan sembelihan dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau memberi sisanya kepada Ali dan beliau menyertakan Ali dalam sembelihan tersebut.
Beliau kemudian memerintahkan agar mengambil sedikit dari setiap hewan-hewan sembelihan itu, kemudian dimasukkan dalam satu panci dan dimasak. Mereka berdua pun makan daging tersebut dan minum kuahnya.
Rasulullah kemudian menaiki kendaraan menuju Baitullah (Ka’bah) untuk thawaf Ifadhah dan beliau shalat Dzuhur di Makkah. Beliau juga mendatangi Bani Abdil Muththalib yang tengah memberi air minum dari air zamzam dan bersabda, “Timbalah air, wahai Bani Abdil Muththalib. Seandainya aku tidak khawatir manusia akan mengalahkan kalian dalam usaha mengambil air ini, niscaya aku akan ikut mengambil air bersama kalian.”
Mereka pun menyodorkan kepada Rasulullah SAW setimba air dan beliau pun meminum air tersebut.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Disarikan dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz karya Syekh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
http://www.jurnalhaji.com/2011/11/09/manasik-haji-rasulullah-saw/ Selengkapnya...
Selasa, 01 November 2011
Betapa Pemurahnya Allah
urahnya Allah
Awal mulanya waktu itu tahun 2006 setelah selesai sholat subuh, aku hidupkan TV untuk menunggu pagi. Berita pagi di salah satu stasiun TV waktu itu menayangkan berita tentang haji, di mana waktu itu disiarkan jamaah haji sedang bergerak menuju Arafah untuk wukuf. Kalau tidak salah saat itu adalah haji akbar.
Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tubuhku bergetar, merinding, air mataku mengucur deras, menangis sejadi-jadinya, seketika itu aku bersujud kepada Allah SWT, kusampaikan keinginanku yang sangat mendadak itu untuk dapat ke Baitullah.
Tahun 2006, aku bertekad bulat membuka tabungan haji bersama istriku meski dengan setoran awal minimum. Aku hanya pasrah kepada Allah kapan aku bisa ke Baitulloh karena keterbatasan finansial. Tanpa disangka, rezeki datang dengan deras sehingga akhirnya aku bisa berangkat di tahun 2008 bersama istriku… Alhamdulillah ya Allah.
Mendekati waktu berangkat, hati ini campur aduk rasanya antara bahagia akan ke Baitulloh dan sedih karena meninggalkan anakku yang wkt itu berumur 3,5 tahun, sedang lucu-lucunya. Istriku tidak kuasa menahan air matanya, sedangkan aku berusaha tabah karena ini adalah perintah Allah.
Menangis di makam Rasullulah
Sampai di Jeddah, kami menuju Madinah dan tiba di maktab jam 21.30 malam. Subuh kami mulai melaksanakan arba’in. Selesai sholat subuh pertama kali di Masjid Nabawi saya menuju Roudhoh melalui pintu Babussalam.
Sampai di depan makam Rasulullah, aku berhenti dan tak kuasa menahan tangis. Betapa bahagianya aku bisa melihat makam manusia termulia di muka bumi yang setiap hari selalu aku sebut dalam sholat maupun sholawat. Tidak pun bisa bertemu langsung, melihat makamnya saja sudah sangat bahagia dan rindu.
Tangis tak kuasa aku hentikan, betapa Allah Maha Pemurah. Bagaimana tidak, aku yang hanya orang biasa tanpa keistimewaan apa-apa diberi kesempatan beribadah di tempat mulia tersebut. Kurang lebih setengah jam aku terhanyut dalam tangis yang akhirnya aku sadar bahwa aku berada di tengah berjubel-jubel orang. Akhirnya aku terseret arus keluar dari Babussalam. Sebuah kepuasan batin yang tiada tara, sungguh indah, sungguh lembut belaian Allah Sang Maha Pencipta.
Ibadah wukuf di Arafah
Peristiwa yang sungguh tidak dapat aku lupakan sampai sekarang adalah waktu melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Malam menjelang berangkat ke Arafah kami bersama jamaah serombongan saling bermaafan menuntaskan urusan antarsesama manusia. Suasana haru dipenuhi tangis karena seakan-akan kami akan dihisab esok harinya, berhadapan lamngsung dengan Sang Pencipta.
Sungguh hatiku ciut saat itu, tapi rasa bahagia lebih besar karena esok adalah wukuf, hari yang kutunggu-tunggu. Semalam di Arafah aku tak mampu memejamkan mata barang sedetik pun. Bukan karena cuaca dingin waktu itu, tapi karena hatiku bercampur aduk rasanya. Tidak kurasakan lelah raga dan mataku, hingga akhirnya waktu wukuf pun tiba.
Masih teringat betul waktu itu sambil mendengarkan khotbah wukuf aku bertasbih, terus.. terus.. sampai kurang lebih 15 menit aku lihat di jam tanganku, aku terus bertasbih. Dalam bertasbih aku menangis terisak-isak terbayang dosa-dosaku. Aku terhanyut dalam tangisan dan aku merasakan udara menjadi dingin, langit teduh, suara tasbih menggema, air mataku tak kuasa kuhentikan.
Udara yang dingin, langit yang teduh menjadikan aku semakin terhanyut dalam tangis. Tak terasa terdengar adzan ashar, kuhentikan tasbih, kurasakan udara kembali panas seperti semula sebelum wukuf. Aku hanya tersadar dan mampu mendengar khotbah wukuf hanya 15 menit pertama, setelahnya aku terhanyut dalam tangis dan tasbih yang menggema diiringi udara dingin sejuk yang berhembus
Sampai dengan sekarang, bila teringat akan hal tersebut, terkadang aku masih menitikkan air mata. Betapa pemurahnya Allah, betapa pemaafnya Allah kepada hamba-hambanya seperti diriku yang hina.
Syaiful Anwar
Jamaah Haji 2008
http://www.jurnalhaji.com/2011/11/01/betapa-pemurahnya-allah/
Selengkapnya...