Ka'bah
Pendataran
Peluang Usaha Tambahan
Menawarkan kerjasama kepada anda yang sudah mempunyai toko, untuk menjadi agen pendaftaran Umroh dan Haji Plus. Komisi sangat menarik.
Tugas anda hanya menerima pendaftaran, untuk administrasi dan pendaftaran kami yang akan mengurusnya.
GRATIS....
Jika berminat silahkan hubungi :
081383960412
sukarnofaza@gmail.com
Perhatian
DP 2.8juta dan Booking Seat USD500.Jadwal Keberangkatan :
Selasa, 01 November 2011
Betapa Pemurahnya Allah
urahnya Allah
Awal mulanya waktu itu tahun 2006 setelah selesai sholat subuh, aku hidupkan TV untuk menunggu pagi. Berita pagi di salah satu stasiun TV waktu itu menayangkan berita tentang haji, di mana waktu itu disiarkan jamaah haji sedang bergerak menuju Arafah untuk wukuf. Kalau tidak salah saat itu adalah haji akbar.
Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba tubuhku bergetar, merinding, air mataku mengucur deras, menangis sejadi-jadinya, seketika itu aku bersujud kepada Allah SWT, kusampaikan keinginanku yang sangat mendadak itu untuk dapat ke Baitullah.
Tahun 2006, aku bertekad bulat membuka tabungan haji bersama istriku meski dengan setoran awal minimum. Aku hanya pasrah kepada Allah kapan aku bisa ke Baitulloh karena keterbatasan finansial. Tanpa disangka, rezeki datang dengan deras sehingga akhirnya aku bisa berangkat di tahun 2008 bersama istriku… Alhamdulillah ya Allah.
Mendekati waktu berangkat, hati ini campur aduk rasanya antara bahagia akan ke Baitulloh dan sedih karena meninggalkan anakku yang wkt itu berumur 3,5 tahun, sedang lucu-lucunya. Istriku tidak kuasa menahan air matanya, sedangkan aku berusaha tabah karena ini adalah perintah Allah.
Menangis di makam Rasullulah
Sampai di Jeddah, kami menuju Madinah dan tiba di maktab jam 21.30 malam. Subuh kami mulai melaksanakan arba’in. Selesai sholat subuh pertama kali di Masjid Nabawi saya menuju Roudhoh melalui pintu Babussalam.
Sampai di depan makam Rasulullah, aku berhenti dan tak kuasa menahan tangis. Betapa bahagianya aku bisa melihat makam manusia termulia di muka bumi yang setiap hari selalu aku sebut dalam sholat maupun sholawat. Tidak pun bisa bertemu langsung, melihat makamnya saja sudah sangat bahagia dan rindu.
Tangis tak kuasa aku hentikan, betapa Allah Maha Pemurah. Bagaimana tidak, aku yang hanya orang biasa tanpa keistimewaan apa-apa diberi kesempatan beribadah di tempat mulia tersebut. Kurang lebih setengah jam aku terhanyut dalam tangis yang akhirnya aku sadar bahwa aku berada di tengah berjubel-jubel orang. Akhirnya aku terseret arus keluar dari Babussalam. Sebuah kepuasan batin yang tiada tara, sungguh indah, sungguh lembut belaian Allah Sang Maha Pencipta.
Ibadah wukuf di Arafah
Peristiwa yang sungguh tidak dapat aku lupakan sampai sekarang adalah waktu melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Malam menjelang berangkat ke Arafah kami bersama jamaah serombongan saling bermaafan menuntaskan urusan antarsesama manusia. Suasana haru dipenuhi tangis karena seakan-akan kami akan dihisab esok harinya, berhadapan lamngsung dengan Sang Pencipta.
Sungguh hatiku ciut saat itu, tapi rasa bahagia lebih besar karena esok adalah wukuf, hari yang kutunggu-tunggu. Semalam di Arafah aku tak mampu memejamkan mata barang sedetik pun. Bukan karena cuaca dingin waktu itu, tapi karena hatiku bercampur aduk rasanya. Tidak kurasakan lelah raga dan mataku, hingga akhirnya waktu wukuf pun tiba.
Masih teringat betul waktu itu sambil mendengarkan khotbah wukuf aku bertasbih, terus.. terus.. sampai kurang lebih 15 menit aku lihat di jam tanganku, aku terus bertasbih. Dalam bertasbih aku menangis terisak-isak terbayang dosa-dosaku. Aku terhanyut dalam tangisan dan aku merasakan udara menjadi dingin, langit teduh, suara tasbih menggema, air mataku tak kuasa kuhentikan.
Udara yang dingin, langit yang teduh menjadikan aku semakin terhanyut dalam tangis. Tak terasa terdengar adzan ashar, kuhentikan tasbih, kurasakan udara kembali panas seperti semula sebelum wukuf. Aku hanya tersadar dan mampu mendengar khotbah wukuf hanya 15 menit pertama, setelahnya aku terhanyut dalam tangis dan tasbih yang menggema diiringi udara dingin sejuk yang berhembus
Sampai dengan sekarang, bila teringat akan hal tersebut, terkadang aku masih menitikkan air mata. Betapa pemurahnya Allah, betapa pemaafnya Allah kepada hamba-hambanya seperti diriku yang hina.
Syaiful Anwar
Jamaah Haji 2008
http://www.jurnalhaji.com/2011/11/01/betapa-pemurahnya-allah/
Selengkapnya...
Jumat, 28 Oktober 2011
Kemenag Prioritaskan Calhaj Lansia, Jamaah Sakit Bertambah
REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan pemerintah tahun ini lebih memprioritaskan jamaah berusia di atas 60 tahun untuk menjalankan ibadah haji. Ini dilakukan setelah mendapat tambahan kuota dari Pemerintah Arab Saudi.
Namun, konsekuensi dari bertambahnya jumlah jamaah usia lanjut, jamaah yang sakit dan dirawat pun semakin banyak. “Jadi apa yang terjadi sekarang (banyaknya jamaah sakit) sebagai imbas karena kita memprioritaskan jamaah berusia yang sudah tua,” ujar Suryadharma seusai meninjau Balai Pengobatan Haji Indonesia (PBHI), Kamis (27/10), seperti dilaporkan wartawan Republika Muhammad Subarkah dari Tanah Suci. Ia mengakui tahun ini terjadi kecenderungan peningkatan jamaah yang dirawat di BPHI.
Menurut Surya, tahun ini jamaah yang berusia lanjut atau di atas 60 tahun sangat banyak jumlahnya. Ia mengatakan banyak jamaah lansia yang masuk daftar tunggu selama lima hinga 10 tahun. ’’Karena tahun ini Indonesia mendapat tambahan kuota haji sekitar 10 ribu orang, maka sebagian besar kuota itu dialokasikan untuk jamaah berusia lanjut, disamping ada yang untuk jamaah haji khusus.’’
Suryadharma mengatakan, meski memiliki konsekuensi, prioritas untuk jamaah lansia tetap akan diambil apabila tahun depan Indonesia kembali mendapat tambahan kuota haji. Ini termasuk jamaah yang masuk daftar tunggu lima hingga 10 tahun. “Karena pada musim haji berikutnya jumlah tenaga medis juga diupayakan ditambah.” ujarnya.
Hingga kini, jamaah Indonesia berusia lanjut yang sudah berada di Arab Saudi mencapai 205.352 orang, terdiri atas usia 51-60 tahun (54.385 orang atau 31,77 persen), usia 61-70 tahun (29.235 orang atau 17,07 persen), usia 71-80 tahun (9.627 orang atau 5,62 persen), usia 81-90 tahun (2.105 orang atau 1,22 persen), dan usia 91 tahun keatas (110 orang atau 0,06 persen).
Redaktur: Johar Arief
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/28/kemenag-prioritaskan-calhaj-lansia-jamaah-sakit-bertambah/
Selengkapnya...
Minggu, 23 Oktober 2011
Menangis Haru di Depan Ka’bah
Pada tahun 2009 tersebut kebetulan aku tergabung dalam kloter ke-6 embarkasi Juanda Surabaya. Setelah tinggal sembilan hari di kota Madinah untuk mengikuti ibadah sholat arba’in, maka rombonganku melanjutkan perjalanan menuju kota Makkah Al Mukaromah.
Sebelum berangkat menuju kota Makkah kami beserta rombongan sudah mengenakan pakaian ihrom dan kami mengambil miqot di Masjid Bir Ali. Sepanjang perjalanan bibirku tiada henti melantunkan kalimat talbiyah secara bersamaan dengan rombangan dalam bus. Hawa panas dari gurun pasir di siang hari yang tidak mampu diusir dengan sempurna oleh AC dari bus tidak begitu kami hiraukan.
Pikiranku terbang jauh, menerawang ke empat belas abad silam. Teringat akan sejarah Rosulullah yang tiada kenal lelah mensyiarkan Islam sehingga bisa dipeluk oleh milyaran orang seperti saat ini. Perjuangan nabi tentunya tidak ringan dan tentunya penuh rintangan onak dan duri serta cacian makian dari para kaum kafir. Sehingga beliau berhijrah dari kota Makkah ke kota Madinah. Yang tentunya perjalanan hijrah tersebut sangat penuh resiko dan mara bahaya. Tiada terasa lelehan air mataku membasahi pipiku teringat perjuangan nabi yang sangat berat tersebut.
Apalagi perasaan rindu akan panggilan Allah untuk menziarahi Bait-Nya benar-benar membuncah. Sehingga menambah sesak dadaku dan semakin deras lelehan air hangat dari mataku sepanjang perjalanan dari Madinah sampai Makah Al Mukaromah. Ingin rasanya segera cepat-cepat sampai di kota Makah dan segera bisa sholat di depan Ka’bah.
Sampai di Makkah
Sesampainya di kota Makkah, senja baru saja menyelimuti langit kota Makkah dan sebentar lagi waktu isya’ segera tiba, namun hawa panas gurun masih terasa. Setelah kami sampai maktab dan mengurus pembagian kamar serta mengurus barang bawaan. Kami secara rombongan menujulah ke Masjidil Haram untuk melakukan ibadah umroh wajib, yakni thawaf, sa’i dan kemudian tahalul.
Hati terus berdegup kencang, bagaikan hati seorang remaja yang sedang kasmaran yang akan bertemu dengan pujaan hatinya. Kami menuju Masjidil Haram dengan menumpang bus dan setelah sampai di Masjidil Haram kami dibriefing sekali lagi oleh seorang ustadz pembimbing kami, tentang tata cara ibadah thawaf dan tentu juga mengingatkan perihal bacaan do’a saat melihat ka’bah.
Debaran di hatiku bertambah kencang saat kakiku kulangkahkan memasuki Masjidil Haram meliwati pintu Bab Babusalam. Begitu memasuki masjid dan mataku menatap bangunan kubus yang terbungkus kain hitam, pertama yang meluncur dari mulutku adalah bacaan tasbih, Subhanallah!
Dengan perasaan haru yang sangat dan lelehan air mata kemudian kupanjatkan do’a saat melihat Baitullah, yakni: “Allaahumma zid haadzalbaita tasyriifan wa ta’zhiiman wa takriiman wa mahaabatan wazid mansyarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyriifan wa ta’zhiiman wa takriiman wa birraa” (Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini, dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang ber-umrah padanya dengan kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan).
Perasaan haru, lelehan air mata di pipiku, rasa sesak di dada, rasa bersalah karena gelimangan dosa dan juga rasa sangat kecil di hadapan Ilahi benar-benar terus menyelimuti hatiku saat itu. Tiada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Hambamu ini sangat kecil dan sangat tidak berarti apa-apa. Baitullah begitu berwibawa berada di tengah- tengah Masjidil Haram yang selalu dikelilingi oleh ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu jama’ah yang sedang thawaf mengikuti perintah-Nya.
Dengan terus memandang Baitullah dan air mata yang terus deras mengalir. Kumulailah thawaf umroh wajib, dari batas arah rukun hajar aswad di kiri sisiku dan lampu neon hijau di sisi kananku, kuucapkan niat dalam hati untuk mulai thawaf, Bismillah Allahu Akbar. Dengan terus membaca talbiah diselingi membaca rangkaian do’a thawaf sesuai panduan dari Kementerian Agama kami terus melakukan thawaf berputar dengan arah berlawanan putaran jarum jam memutari Ka’bah Baitullah.
Perasaanku campur aduk antara haru, kecil tak berarti apa-apa, berdosa karena gelimangan dosa-dosa dan pengharapan ampunan dan maghfiroh dari NYA terus menyelimuti hatiku.
Satu kali, dua kali dan tiga kali putaran, air mata terus meleleh dan membasahi pipiku. Dengan terus melantunkan talbiyah, tasbih, tahmid dan tahlil kuterus menerus memohon dalam hati ampunan dari Nya. Dan bahkan lelehen air mata semakin tak bisa terbendung saat putaran kelima sampai ketujuh saat kuberhasil menyentuh Rukun Yamani dari Ka’bah sebagaimana disunahkan oleh Rosulullah.
Setelah mengelilingi Baitullah untuk thawaf selesai, kemudian kutunaikan sholat sunah dua raka’at di arah belakang Maqam Ibrahim. Dalam sholat tersebut rasanya aku begitu dekat dengan Allah sepanjang sholat. Baca’an demi baca’an sholat sebisa mungkin kulafalkan dengan fasih dan kuhayati artinya. Semakin menjadi-jadilah linangan air mataku meleleh di pipi. Dan bahkan air mataku membasahi laintai tempat aku sujud.
Praktis sepanjang sholat saya menangis terus dengan lelehan air mata yang tiada henti. Rasanya baru kali ini aku menangis dalam sholat sampai separah ini. Subhanallah, duh sungguh benar-benar nikmat rasanya!
Ahmad Mustofa
Jamaah Haji 2009
Selengkapnya...
Jumat, 21 Oktober 2011
Antara Makkah dan Bakkah
Ada pula yang mengatakan, dinamakan Makkah disebabkan ramainya orang-orang di sekitarnya. Hal ini dikiaskan dengan ucapan mereka, “Bayi unta yang berebut susu induknya.” Dan dinamakan Bakkah karena ramainya orang-orang di sekelilingnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa Makkah adalah nama kota, dan Bakkah adalah nama Baitullah. Pendapat yang lain mengatakan, Makkah adalah Bakkah. Lafadz mim diganti dengan ba’, sebagaimana mereka mengatakan lazib (tetap) dengan lazim (wajib). Abu Al-Qasim berkata, “Inilah yang disebutkan oleh Abu Bakar di Makkah.”
Ada juga pendapat-pendapat lain. Di antaranya, pendapat Asy-Syaraqi bin Al-Qathani. “Disebut Makkah karena orang-orang Arab pada masa jahiliyah menganggap bahwa tidak sempurna haji seseorang sampai ia mendatangi Ka’bah lalu bersiul di sekitarnya seperti suara anak burung Mukka’ di sekeliling Ka’bah. Mereka pun bersiul dan bertepuk tangan saat thawaf di Baitullah,” kata Al-Qathani.
Mukka’—dengan tasydid pada huruf kaf—adalah jenis burung yang tinggal di taman-taman. Suatu ketika orang Arab Badui datang ke kota lalu melihat burung Mukka’ berkicau, sehingga dia pun rindu kepada negerinya.
Muka’—huruf kaf dipanjangkan tanpa tasydid—artinya siulan. Seakan dahulu mereka menirukan suara burung Mukka’. Meski hanya sekedar siulan, tapi mengandung makna yang mendalam.
Suatu kaum berpendapat, “Dinamakan Makkah karena lokasinya yang terletak di antara dua gunung. Posisinya berada di tanah rendah sama dengan kedudukan tempat minum (makkuk).”
Adapun pendapat yang mengatakan pemberian nama Makkah karena keramaian orang-orang di sekitarnya merupakan takwilan yang keliru jika dikiaskan pada anak unta yang berebut susu induknya. Sebab, unta yang berebut susu induknya tidak bisa disamakan dengan manusia yang berdesakan di sana. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pertama, dinamakan Makkah karena ramainya orang-orang di sana. Kedua, karena manusia dari seluruh penjuru dunia berdatangan dan beribadah di sana.
Pendapat lain mengatakan, dinamakan Makkah karena seseorang yang melakukan perbuatan menyimpang di wilayah itu akan dipukul tengkuknya, sehingga lehernya menjadi bengkok.” Asy-Syaraqi berkata, “Telah diriwayatkan bahwa Bakkah adalah sebuah desa, sedangkan Makkah adalah tempat penyerbuan yang terdapat di Dzu Thuwa. Ia tidak dapat dilalui oleh seorang pun dari penduduk Syam, Irak, Yaman, dan Bashrah. Ia berada di dasar celah Dzu Thuwa.”
Ada pula yang berpendapat, Bakkah adalah lokasi Baitullah, sedangkan sekitarnya adalah Makkah. Menurut Ubaidillah, dinamakan Makkah karena ketersediaan airnya yang sedikit. Orang-orang dulu, untuk mendapatkan air, mereka menyedot air dari daerah sekitarnya.
Ada pula yang mengatakan, karena ia dapat menghisap dosa-dosa, yakni menghilangkannya sebagaimana anak unta menghisap susu induknya sehingga tidak tersisa sedikit pun. Ada pula yang mengatakan dinamakan Makkah karena ia merendahkan orang yang berbuat zalim.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth
Selengkapnya...
Kamis, 13 Oktober 2011
Sejarah Pembangunan Masjidil Haram
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali Imran: 96-97).
Kedua ayat ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa rumah ibadah yang dibangun pertama kali di bumi adalah Baitullah. Kedua ayat ini pun menjelaskan tentang keeucian dan kehormatan yang terdapat padanya, beserta berbagai petunjuk, bukti, dan jejak yang ada padanya. Di antaranya adalah Maqam Ibrahim.
Al-Mawardi meriwayatkan dari Atha’, dari Ibnu Abbas, bahwa tatkala Adam diturunkan dari surga ke bumi, Allah SWT berfirman kepadanya, “Wahai Adam, pergilah dan dirikanlah sebuah rumah untuk-Ku. Lalu berthawaflah padanya. Sebutlah nama-Ku di dekatnya, sebagaimana engkau saksikan para malaikat melakukannya di seputar Arsy.”
Adam pun memijakkan kakinya di muka bumi. Setiap tepat yang dilewatinya kelak menjadi wilayah-wilayah yang berpenghuni. Ketika Adam sampai di lokasi Baitullah yang suci, Jibril memukulkan kedua sayapnya di bumi. Lalu, menyembullah fondasi yang tertancap erat dari atas lapisan bumi yang ketujuh. Para malaikat melemparkan kepadanya batu berat yang tidak akan sanggup diangkat oleh 30 orang laki-laki. Kemudian Adam membangun Baitullah dengan batu yang berasal dari lima gunung: Hira, Thur Sina, Lebanon, Jud, dan Thur Zait. Sedangkan batu pertamanya berasal dari gunung Hira.
Sebagian riwayat menyatakan, telah diturunkan sebuah kemah dari surga untuk Adam. Kemah tersebut dipasang di lokasi Ka’bah agar Adam dapat tinggal di dalamnya dan berthawaf di sekelilingnya. Kemah tersebut tetap berada di sana sampai Adam wafat. Setelah itu, barulah Allah mengangkatnya. Riwayat ini disampaikan melalui jalur Wahb bin Munabbih.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa telah diturunkan bersamanya Baitullah. Di sanalah Adam dan anak cucunya yang beriman melakukan thawaf. Namun, ketika bumi tenggelam oleh air bah, Allah mengangkat Baitullah ke langit. Baitullah itulah yang disebut dengan Baitul Ma’mur. Riwayat ini berasal dari Qatadah seperti yang ditulis Al-Halimi dalam kitabnya, Minhaj Ad-Din.
Al-Halimi mengatakan bahwa pengertian yang dikatakan Qatadah tentang ‘telah diturunkan Baitullah bersama Adam’ yakni diturunkan pula bersamanya ukuran rumah yang dibangun, baik panjang, lebar, maupun tingginya. Kemudian diperintahkan kepada Adam, “Bangunlah sesuai dengan ukurannya. Perhatikan posisinya, yaitu sekitar lokasi Ka’bah.”
Dia pun membangunnya di sana. Inilah pembangunan yang dilakukan Adam, dan kelak akan diteruskan oleh Ibrahim.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth
Selengkapnya...
Selasa, 11 Oktober 2011
Menag Minta Petugas KBIH Waspada
SDA juga menyesalkan perampokan yang dilakukan oleh WNI kepada beberapa jamaah haji Indonesia di sekitar Masjid Nabawi, Madinah beberapa waktu lalu.
“Para petugas haji harus mengkoordinir KBIH-KBIH kemudian petugas kloter untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya, usai menghadiri Annual Conference Islamic Studies di Pangkal Pinang, Bangka, Senin (11/10) malam.
Selain itu, ia mengimbau agar jamaah haji Indonesia tidak mudah terkecoh dengan orang yang tidak dikenal di Tanah Suci. Meski orang tersebut merupakan bangsa sendiri, menteri yang merupakan ketua umum partai politik itu meminta agar jamaah meningkatkan kewaspadaan.
Menurutnya, profil jamaah haji Indonesia yang berasal dari pelosok daerah perlu terus diingatkan. Pasalnya, banyak jamaah yang selama ini tinggal di pulau-pulau terpencil dan tidak pernah menginjakkan kaki ke kota.
Dampaknya, jamaah bingung ketika dihadapkan dengan situasi yang sangat ramai seperti di Tanah Suci. “Tiba-tiba ada orang mau membantu. Tentu dia senang sekali. Mungkin dalam pikiran mereka tidak ada orang jahat di Tanah Suci,” kata SDA.
Lebih lanjut, SDA menyarankan agar jamaah tidak membawa uang dalam jumlah besar dan perhiasan yang mencolok saat berada di Tanah Suci. Hal tersebut bisa menambah peluang bagi jamaah untuk menjadi korban perampokan atau pencurian.
Terkait dengan pengamanan di Tanah Suci, SDA mengungkapkan itu sepenuhnya tanggungjawab Kepolisian Arab Saudi. “Mereka telah memiliki prosedur pengamanan sendiri untuk jamaah haji,” katanya.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: A Syalaby Ichsan
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/11/menag-minta-petugas-kbih-waspada/ Selengkapnya...
Panas dan Lingkungan Baru Saat Haji Picu Stres
Rasa cemas, panik dan bingung yang seringkali dialami jamaah adalah gejala stres. Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Indonesia, Fidiansyah, memaparkan banyak sekali jamaah haji yang baru saja sampai embarkasi sudah stres. “Hal ini karena jamaah haji bertemu dengan orang lain yang memiliki kebiasaan berbeda. Si jamaah menjadi merasa asing,” jelasnya.
Stres yang sudah menerpa sejak di Tanah Air ini akan berlanjut saat di perjalanan ke Tanah Suci yang ditempuh lebih dari 10 jam. Begitu sampai, iklim yang sangat panas dan ekstrim juga akan menyumbang rasa stres jika tidak diantisipasi.
Menurut Fidiansyah, suhu udara panas yang mencapai 40 derajat celcius akan memicu dehidrasi. Elektrolit yang keluar dari tubuh sangat penting untuk jalannya fungsi otak. “Jika dehidrasi tidak segera diatasi, maka akan mengganggu fungsi otak. Pikiran menjadi tidak fokus dan bisa mengalami gangguan emosi seperti mudah marah dan bingung,” ujarnya.
Acapkali jamaah haji tidak memperbanyak porsi minumnya karena takut buang air kecil yang membatalkan wudhunya. Harus dipahami oleh jamaah haji agar sering minum. Jika menyebabkan sering buang air kecil tidak masalah. Karena jika mengalami dehidrasi, akibat yang diterima akan lebih parah.
Stres karena suhu tinggi dan juga lingkungan sekitar yang sangat berbeda dari asal ini berdasarkan kajian Fidiansyah kemungkinannya 15-20 persen bagi jamaah berusia muda dengan kondisi tubuh masih bugar. Artinya, satu diantara lima orang bisa saja mengalami stres.
Gangguan emosi ini pun semakin parah seiring semakin lanjutnya usia. Pada lansia, prosentase timbulnya stres akibat cuaca dan lingkungan sekitar 30-40 persen. Atau diantara tiga orang ada satu jamaah yang stres. Karena pada lansia fungsi organ tubuh sudah menurun dibandingkan usia muda.
Jika gejala cemas, bingung, panik sudah mulai dialami oleh jamaah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai antisipasi diri. Yaitu segera minum air yang banyak agar kebutuhan elektrolit atau cairan tubuh tidak kurang.
Atau saat bingung mulai mendera, jamaah haji bisa mencari atribut Indonesia baik bendera atau label merah putih yang tersemat di jamaah lainnya. Setidaknya, di gedung tempat bendera merah putih dikibarkan atau jamaah yang menggunakan atribut merah putih bisa membantu mengarahkan ke sektor tempat jamaah Indonesia.
“Berbeda kloter tidak masalah, yang penting rasa cemas dan panik serta bingung bisa diredam saat bertemu dengan sesama Indonesia,” kata Fidiansyah.
Di sisi lain, lansia sangat dianjurkan mempunyai pendamping. Kendala fisik, adaptasi di tempat baru dan juga suhu yang sangat panas bisa diantisipasi jika ada pendamping. Jika tak ada pendamping, maka jamaah bisa secara rutin melaporkan kondisi kejiwaannya kepada ketua regu. Ketua regu dan ketua rombongan nantinya akan memantau perkembangan kesehatan jamaah, sehingga bisa antisipasi jika ada jamaah yang membutuhkan bantuan.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Prima Restri
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/11/panas-dan-lingkungan-baru-saat-haji-picu-stres/ Selengkapnya...